Tampilkan postingan dengan label Pendakian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendakian. Tampilkan semua postingan

17 Oktober 2011

Gallery Nglanggeran II

0 komentar












Gunung Sumbing, Pesona Gunung Gersang Yang Tidak Mudah Ditaklukkan Part 2

0 komentar

Lanjutan…


Kurang lebih jam 6 saya sudah keluar dari tenda dan segera menghirup udara segar pada pagi itu. Di ufuk timur matahari sudah keluar dari peraduannya dan menciptakan siluet yang luar biasa di belakang punggungan Sumbing. Setelah meluruskan badan sejenak sambil ber-narsis ria dan menikmati segelas kopi panas kami segera bersiap melakukan summit attack pada pukul 8 pagi. Fyuuhhh.. ini yang jadi bahan fikiran saya ketika mendaki gunung sumbing. Pada siang hari, suhu akan semakin tinggi ditambah lagi dengan kondisi gunung yang gersang dan tidak adanya sumber air. Hal ini akan mengakibatkan kelelahan yang luar biasa serta dehidrasi yang sangat cepat menghinggapi para pendaki. Disarankan mendaki gunung ini ketika hari sudah mulai gelap.





Jam 9 kurang kami tiba di Pestan (peken setan/pasar setan) pada ketinggian 2437 mdpl. Di kawasan ini para pendaki dapat mendirikan tenda karena lokasi ini sangat luas dan datar berupa padang rumput dengan sedikit pepohonan kecil. Namun jika mendirikan tenda di lokasi ini para pendaki harus berhati-hati terhadap terpaan angin kencang dan badai yang kadang-kadang sampai merobohkan tenda. Kondisi jalan masih berupa tanah merah berpasir.


Kami berhenti sejenak disini sambil sarapan pagi. Wawan kelaparan. Bahar ketiduran karena capek, kondisi fisiknya mulai mencapai 30 % hhaa.. Parto masih bertahan. Didit dan Andri masih kuat (salut).






Karena kondisi jalur yang mulai “aduhai asoy”, kami menyembunyikan beberapa carrier termasuk perlengkapan di dalamnya agar mengurangi beban yang kami bawa. Berharap tidak akan ada yang mengambil, karena gunung memiliki hukumnya sendiri.


“karena gunung memiliki hukumnya sendiri”


Pukul 10 kami langsung capcus dari tempat istirahat kemudian dokumentasi sebentar di kawasan Pestan. Dari Pestan jalur semakin curam dan sulit karena jalurnya yang berbatu dan jika tidak hati-hati akan tergelincir. Kawasan ini dinamakan Pasar Watu karena banyaknya batu-batu karang besar yang berserakan. Di ujung jalur ini terdapat sebuah dinding terjal yang menanjak serta buntu sehingga para pendaki harus memutar melewati daerah punggungan bukit sebelah kiri di akhir kawasan Pasar Watu. Jalur ini lumayan menegangkan karena jalannya yang sempit. Disebelah kiri terdapat jurang yang cukup terjal dan di kanan terdapat dinding terjal namun jalur ini sepenuhnya datar (bonuss). Andri dan Parto ternyata nyasar ke jalur buntu jadi saya harus mengejar mereka berdua. Karena jalan kembali ke ujung Pasar Watu terlalu jauh, saya memutuskan kita turun dari puncak buntu tersebut dengan memanjat tebing. Whahahha…seru..seru..


KM VI (Watu Kotak) : Setelah menelusuri sisi batuan terjal ini kami sampai di Watu Kotak dengan ketinggian 2763 mdpl. Disebut Watu Kotak karena di tengah jalur ini terdapat beberapa batu besar yang berbentuk kotak dan memiliki ceruk yang dapat digunakan sebagai perlindungan dari tiupan angin dan hujan. Di kawasan ini terdapat sedikit ruang bagi para pendaki untuk mendirikan tenda kecil. Namun, para pendaki tidak boleh buang air sembarangan dan berbicara yang kasar di tempat ini karena termasuk salah satu tempat yang dikeramatkan. Waktu menunjukkan pukul 12.30.


Kami beristirahat sejenak dengan ditemani segelas kopi dan beberapa snack. Entah siapa yang memiliki ide minum kopi siang hari diatas gunung yang kering ini. Hhaaa...(bikin tambah dehidrasi saja! Wan, mengaku!!!) Alhasil persediaan air minum kami berkurang menjadi 1 botol ditambah lagi Bahar yang hobinya minum kayak sapi. Hhhaa..





Disini kami tidak terlalu lama beristirahat. Wawan dan Parto sudah mulai melanjutkan perjalanan. Kemudian disusul Andri, Didit, dan Saya. Sedangkan Bahar kami tinggalkan sendirian di Watu Kotak karena ketiduran dan sudah kondisinya sudah memasuki angka 10 %.


Saya :    “Bahar, kalau tidak sanggup kau disini saja. Tunggu torang bale dari puncak. Tidak lama torang disana”.


Bahar :  “Aihh… tidak bang! Saya mau memecahkan rekor demi 5 cm (buku donny dhirgantoro tentang pendakian ke Semeru). Kalian duluan saja, saya mau tidur dulu”. Zzzzz….zzz….zzz…


Saya :    “oke.. tapi pelan-pelan saja jangan terlalu bapaksa”.


Akhirnya kami pun meninggalkannya sendirian. Tanpa air. Hhaa…


Dari Watu Kotak kami melewati kawasan Tanah Putih. Kawasan ini sepenuhnya terdiri dari batuan kapur dan merupakan jalur yang paling berat diantara jalur yang lain. Saya pun hampir frustasi di tempat ini karena kondisi jalannya yang sangat menanjak dan terjal diperparah lagi dengan dehidrasi yang amat sangat. Beberapa kali saya sempat tergelincir ke bawah karena batuannya yang mudah jatuh menggelinding. Sekitar 1,5 jam perjalanan Saya dan Didit sampai di Puncak. Untuk sampai ke Puncak dari Tanah Putih kita terus lurus keatas sedangkan untuk menuju Kawah Besar pendaki harus mengelilingi jalan setapak di sebelah kiri Puncak.


KM VII (Puncak) : Puncak Gunung Sumbing ini dikelilingi oleh tebing-tebing batu dan memiliki beberapa puncak antara lain Puncak Buntu pada ketinggian 3371 mdpl dan Puncak Sumbing pada ketinggian 3372 mdpl. Puncak Gunung Sumbing tidak terlalu luas karena terdiri dari tumpukkan batu-batu karang besar sehingga para pendaki tidak dapat mendirikan tenda di tempat ini. Sebenarnya di puncak ini kita dapat melihat megahnya Gunung Sindoro yang terletak tepat di depan mata dan keindahan Gunung Slamet (3428 M) di sebelah barat. Tapi karena awan yang sangat tebal sehingga kita tidak dapat melihat semua keindahan itu. Jika kita melongok ke kawah, kita dapat melihat dengan jelas keluarnya asap belerang dari perut Sumbing. Kita pun dapat sampai kesitu dengan cara menuruni tebing sebelah kiri dari Puncak Buntu tetapi pendaki juga harus hati-hati dengan kawah belerang tersebut.




“Cuaca cerah, angin berhembus kering, langit biru, jurang kawah menjulang, hamparan awan luas membentang. Mungkin tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya rasa syukur dan kagum atas ciptaan-Nya. Hanya merasa kerdil dibanding seluruh semesta. Hanya merasa malu untuk menjadi sombong setelah melihat batapa kecilnya kita. Menaklukkan gunung adalah menaklukkan diri sendiri, menaklukkan ego dan kecongkakan diri, menjadi orang yang lebih peka terhadap sekitar kita. Alam…mengajarkan kita semua.”



Ingin rasanya berlama-lama merasakan segala pengalaman spiritual itu, kepuasan bathiniah yang tak ternilai. Rasa lelah dan penat sepanjang peralanan seakan terbayar lunas ketika sampai di puncak gunung gersang ini. Namun waktu yang kami miliki tidaklah banyak, kami harus segera turun karena malam akan segera menjelang. Kami tidak ingin kemalaman sebelum kawasan Pestan.




03 Oktober 2011

Merbabu Challenge 2011

0 komentar


* NB :


1. Start awal dari basecamp ALPEN di Jalan Kaliurang KM 14,5. Kurang lebih Pukul 18.30 WIB.


2. Iuran terakhir dikumpulkan pada Kamis malam tgl 07/10/2011 sekaligus kepastian rombongan yang akan ikut.


3. Jaga kondisi dan siap mental


4. Segera hubungi koordinator (saya) di nomor yang tertera untuk info lebih lanjut


5. Terima Kasih

22 September 2011

Gunung Sumbing, Pesona Gunung Gersang Yang Tidak Mudah Ditaklukkan

0 komentar

Berawal dari niat dan tekad yang kuat bersama seorang kawan untuk menyelesaikan pendakian "triple S" (Sumbing, Sindhoro, Slamet) di Jawa Tengah, maka diputuskan Gunung Sumbing adalah tujuan pendakian selanjutnya.



Gunung Sumbing merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah dengan ketinggian mencapai 3.371 mdpl dan berhadapan langsung dengan Gunung Sindoro yang sudah pernah saya taklukkan bersama komunitas ALPEN kurang lebih setahun yang lalu.

Gunung ini memiliki tipe strato atau kerucut yang membuatnya terlihat sangat terjal dan sulit untuk didaki. Kondisi puncaknya yang terdiri dari tebing batu cadas dan banyak kawah - kawah kecil yang selalu mengeluarkan asap belerang membuat gunung ini selalu diminati oleh para pendaki dari seluruh pelosok negeri. Apalagi gunung ini termasuk dalam pendakian ‘Triple S’ (Sindoro, Sumbing, dan Slamet). Puncaknya terdiri atas dua puncak, Puncak Buntu, dengan ketinggian 3.362 mdpl dan puncak Kawah, dengan ketinggian 3.371 mdpl.

Untuk mencapai puncak Sumbing kita dapat memilih beberapa alternatif jalur pendakian. Rute Garung (Punggungan Utara), Rute Cepit (Punggungan Timur), dan Rute Kalikajar (Punggungan Barat).Ketiganya memiliki karakteristik dan sarana transportsi yang berbeda. Kemudahan akses transportasinya pun berbeda pula.

Keadaan medan gunung ini sangat gersang di musim kemarau. Kondisinya punggungan gunung juga terbuka dan hampir nyaris dipenuhi oleh ilalang. Sumber air juga susah ditemukan kecuali mata air yang terdapat di ketinggian 2200 M, yaitu di sekitar daerah Genus (jalur lama) atau di Kedung (jalur baru) dan bentuknya telah permanen karena mata air ini juga dipakai untuk keperluan ladang pertanian. Jalur menuju ke puncak setelah ladang pertanian adalah jalur bebatuan. Jalur bebatuan ini dikenal rawan longsor jadi pendaki disarankan berhati-hati melewati jalur ini. Setelah melewati jalur bebatuan ini maka pendaki akan dapat mencapai puncak buntu (3371 M). dari puncak ini pendaki harus mengelilingi jalan setapak untuk dapat turun menuju Kawah Besar Gunung Sumbing. Dari puncak buntu pada pagi hari pendaki dapat melihat megahnya Gunung Sundoro yang terdapat tepat di depan mata dan keindahan Gunung Slamet (3428 M) 110 Km sebelah barat Gunung Sumbing.

Waktu yang dimiliki sebenarnya lebih dari cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari mengumpulkan informasi, persiapan fisik dan mental, persiapan perlengkapan dan perbekalan, sampai dengan menyusun rencana dan manajemen perjalanan. Namun karena sesuatu dan lain hal maka rencana pendakian ini sedikit molor. Hingga hari keberangkatan pun, 4 orang anggota baru ikut bergabung. Andri, Parto, Didit, dan Bahar. Bahkan malam sebelumnya, saudari-saudari saya berencana ikut dalam pendakian. Namun saya tidak berani mengambil resiko tersebut di Gunung Sumbing. Maaf yaa..!



Rencana pendakian ini pun sebenarnya hanya akan ada saya dan wawan (seorang kawan yang sudah cukup berpengalaman menaklukan beberapa gunung a.l :Merapi, Merbabu, dan Lawu), serta iki (yang terobsesi menjadi seorang pendaki profesional dan pernah menaklukkan Lawu bersama saya. Hanya kami berdua). Karena banyak pertimbangan, iki tidak bisa ikut dalam ekspedisi kali ini.


Singkat cerita, akhirnya berangkatlah kami ber-enam menuju basecamp Gunung Sumbing yang terletak di Desa Butuh, Dusun Garung, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Rute Garung merupakan salah satu dari 3 rute pendakian menuju puncak Sumbing  yang paling banyak diminati oleh para pendaki karena jalur ini banyak petunjuk dan keamanan medannya lebih terjamin serta waktu tempuhnya lebih cepat dibandingkan dengan jalur lain.



Basecamp di dusun Garung – Desa Butuh ini merupakan entry point atau desa terakhir menuju jalur pendakian. Di rute ini terdapat 2 jalur pendakian yaitu Jalur Lama dan Jalur Baru. Sebenarnya tidak ada perbedaan yang khusus mengenai kedua jalur ini hanya arah dan sudut pendakiannya saja yang sedikit berbeda. Jika menggunakan jalur lama maka akan terasa sangat berat karena pendaki akan menemukan medan pendakian yang berkemiringan sekitar 70 derajat, sehingga pada saat turun hujan akan sangat berbahaya untuk didaki. Berbeda dengan jalur baru yang terletak di sebelah barat jalur lama, medan pendakian tidak seberat jalur lama hanya ketika menggunakan jalur ini pendaki akan banyak melewati daerah perbukitan kecil sehingga akan lebih lama untuk mencapai puncak.

Setelah sampai di basecamp kami melapor kepada penanggung-jawab sekaligus registrasi ijin pendakian ke Gunung Sumbing. Di basecamp ini kita bisa bermalam dan memesan menu yang tersedia sebagai pengganjal perut sebelum mulai mendaki. Untuk kebutuhan air sebaiknya dipersiapkan di basecamp ini, karena selama perjalanan ke puncak mata air susah untuk dicari. Registrasinya cukup sederhana, kami hanya diminta menulis daftar nama rombongan dan membayar Rp. 3.000/orang.


 


Here We Go..!


Setelah kami mengurus administrasi, tidak lupa saya menyuruh kawan-kawan yang belum pernah mendaki melakukan peregangan otot untuk menghindari cidera-cidera yang tidak perlu sekaligus mengisi botol-botol air yang masih kosong.


Istirahat sebentar kemudian berdoa. Amin…!!! Waktu menunjukkan pukul 16.45 WIB dan cuacanya cerah. Kami mengambil rute jalur baru yang terletak di sebelah barat dusun. Jalur ini jika mendaki terasa lebih mudah dibandingkan dengan jalur lama. Tapi ketika turun gunung lebih baik melewati jalur lama. Kelompok dibagi menjadi 2. Saya, Andri, dan Didit dengan saya sebagai penanggung-jawab. Sedangkan kelompok lainnya ada Wawan, Bahar, dan parto. Wawan sebagai penanggung-jawab mereka. Kami diberikan sebuah peta yang sangat bermanfaat bagi kami.



KM 1 :   Jalan menuju batas hutan berupa jalanan aspal dengan tanjakan panjang. Di kanan kirinya terdapat rumah-rumah penduduk dan ladang-ladang. Dalam hati saya berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa kepada kami karena pengalaman yang masih sangat terbatas apalagi di gunung yang konon katanya tidak mudah menggapai puncaknya plus miskin vegetasi alias gersang. Perjalanan awal menuju pos 1 ini terasa tidak begitu sulit karena masih merupakan jalan dusun dan hanya terdapat beberapa tanjakan yang tidak begitu berarti.


Di sepanjang perjalanan kami banyak bertemu dengan penduduk yang berjalan berlawanan arah dengan kami, mereka membawa kayu bakar kering dan bongkahan rumput. Kebanyakan dari mereka sudah berusia senja, namun semangat dan perjuangannya seakan mengalahkan kami yang muda-muda.


KM 2 :   Hampir satu setengah jam kami berjalan, pemandangan belum jauh berbeda dan matahari kian turun ke peraduannya. Kami melewati Pos 1 sambil istirahat sebentar menunggu kawan-kawan yang tertinggal di belakang. Maklum Bahar yang bertubuh gempal dan Parto yang smoke addict mungkin kaget dengan kondisi jalan yang mulai menanjak yang terdiri dari tanah liat dan berpasir. 2 botol minuman dihabiskan oleh mereka. Hhha…


Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Pos II Gatakan. Di peta letak Pos II tidak begitu jauh sekitar 3 km dan waktu tempuh sekitar 1 jam. Setelah perjalanan yang cukup jauh dan -menurut insting saya- akan segera sampai di Pos II, kami menemui pertigaan. Lurus dan Kiri. Saat-saat seperti inilah seorang pemimpin harus bisa mengambil keputusan.


Saya memutuskan mengambil rute sebelah kiri yang ternyata adalah rute yang salah karena rute ini hanya digunakan oleh para petani untuk mengambil rumput sebagai pakan ternak mereka. Jalur ini memotong punggungan bukit dan semakin sempit, melewati sungai dengan aliran yang kecil, serta vegetasi yang semakin rapat dan tinggi. Lebih parahnya lagi beberapa kawan sempat panik, saya pun menghubungi petugas basecamp. Ide dari petugas menyuruh kami memutar balik menuju pertigaan tadi tapi saya memutuskan untuk tetap berada pada jalur ini. Lucunya, sekitar 10 meter kemudian kami menemui pertigaan yang terletak di KM III Jalur Lama.


KM III Jalur Lama :  Jalur pendakian sudah semakin menanjak dengan sudut kemiringan 45 derajat lebih. Kondisi jalan tanah liat dan berpasir sehingga seringkali kami tergelincir ke bawah walaupun kami masih sering menjumpai beberapa bonus (jalan rata, istilah). KM III dikenal dengan nama Malim. Disini juga merupakan kawasan bosweisen atau perbatasan antara hutan dan ladang penduduk. Sebenarnya memotong jalur di KM III ini kami seperti turun beberapa meter kebawah dari jalur sebelumnya.


KM IV (Genus) :      Kondisi jalan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya hanya saja vegetasi di kawasan ini semakin rapat dan banyak pepohonan yang tinggi. Pendaki juga harus berhati-hati karena jalur berada di pinggiran jurang apalagi mendaki pada malam hari seperti kami. Tim sudah sangat kelelahan dan waktu sekitar pukul 10 malam.


Di jalur ini terdapat beberapa pertigaan yang kami kira adalah pertigaan Pestan (peken setan/pasar setan) yaitu pertemuan jalur lama dan baru. Karena kami semua takut “terjadi apa-apa”, kami sudah mulai diam dan tegang, saya sudah mencoba segala macam doa entah dengan yang lainnya. Mental kami sedang teruji apalagi kelelahan plus kelaparan sudah sangat membebani kami. Ternyata kita belum melewati pasar setan. Hufff… sedikit lega.


Kami melewati pertigaan engkol-engkolan yang kondisinya tidak terlalu menanjak tapi tetap harus hati-hati karena jalannya yang berpasir sehingga seringkali tergelincir. Kami beristirahat sebentar dan bertemu dengan pendaki dari wonosobo yang sedang bermalam disana. Sempat menanyakan rute kemudian kami melanjutkan perjalanan.


KM V (Seduplak Roto) :      Jalur pendakian menanjak kembali. Kali ini sudut kemiringan sudah sangat tinggi dan seringkali kami tergelincir. Kondisi jalan masih sama namun sejauh mata memandang ilalang sangat mendominasi kawasan ini. Karena sebagian anggota tim sudah sangat kelelahan, kami memutuskan untuk bermalam disini walaupun sempat terjadi sedikit perdebatan antara saya dan wawan. Saya hanya tidak ingin mengambil resiko dengan kawan-kawan yang baru pertama kali mendaki. Waktu menunjukkan pukul 23.20 WIB dan posisi kami berada pada ketinggian sekitar 2.350 mdpl. Bayang-bayang Sindhoro yang berdiri tegak di depan kami menambah indahnya langit pada malam itu dengan kondisi yang sangat cerah namun dingin dan berangin.




Kami mendirikan tenda dan segera mengisi perut yang sudah sangat memberontak sedari tadi. Wawan sebagai koki segera memainkan perannya. Hhha…




“Ahh.. apapun makanannya kalau diatas gunung dan di dalam pelukan alam semua terasa begitu nikmat”. Manusia itu jika sedang dalam kesulitan dan beban yang sama akan terasa damai dan bersatu. Semua menjadi satu. Satu lagi pelajaran hidup bagi saya.



Selesai makan kami segera beristirahat karena rencananya kami akan melakukan summit attack pukul 06.00 WIB.


 



To Be Continued…

19 September 2011

Gallery Nglanggeran II, Cerita Tentang Pagi Yang Menakjubkan

0 komentar
[slideshow]

Bonus, Jepret Sendiri :





_rheyzaurus_

03 Agustus 2011

Gallery Gunung Api Purba Nglanggeran 2011

0 komentar
[gallery columns="4" orderby="ID"]

31 Juli 2011

Galeri Expedisi Sumbing 2011

1 komentar
[gallery columns="4" orderby="ID"]

06 Juli 2011

Expedisi Sumbing 2011

0 komentar

27 Mei 2011

Persiapan Umum Mendaki Gunung

0 komentar

Bagi sebagian orang, mendaki gunung adalah kegiatan yang tidak berguna. Selain kedinginan dan kelelahan, risiko yang bakal dihadapi juga cukup besar. Banyak cerita para pendaki gunung yang tewas karena berbagai hal misalnya jatuh ke dalam jurang, mati kedinginan, ataupun tersesat.


Namun bagi para petualang gunung, aktivitas ini sangat menyenangkan karena bisa berjalan menusuri rimba, melewati jurang yang terjal, dan mendaki bukit dengan ditemani pemandangan alam yang tidak biasa.


Sebelum melakukan pendakian sejumlah persiapan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Perbekalan, perlengkapan, dan yang penting adalah badan yang sehat.


Persiapan Pendakian


Mendaki gunung memerlukan sebuah persiapan khusus, baik teknis maupun fisik. Sebab jika tidak, maka bisa jadi pendakian akan mengalami hambatan-hambatan dan hal yang paling tidak diinginkan lainnya. Berikut persiapan umum yang harus dipatuhi oleh seorang pendaki sebelum mulai pendakian.




  1. Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter (Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut), atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi dan jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.

  2. Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.

  3. Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.

  4. Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.

  5. Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.

  6. Jangan malu untuk belajar dan bertanya pada kelompok-kelompok pencinta alam yang ditemui dalam perjalanan pendakian.

  7. Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.


Berikut perlengkapan atau bekal yang harus dibawa saat pendakian.

  • Carrier. Digunakan untuk menampung seluruh perbekalan dan peralatan pendakian.

  • Matras. Fungsinya sebagai alas pada saat beristirahat. Bisa juga digunakan sebagai pelapis dalam, agar carrier terlihat lebih rapi dan nyaman digunakan.

  • Ponco/Jas hujan. Alat ini sangat diperlukan terutama untuk antisipasi jika turun hujan saat pendakian. Sebab seringkali cuaca di gunung kurang bersahabat dan susah ditebak.

  • Kompor Portable, Digunakan untuk memasak logistik yang tersedia selama pendakian

  • Doom/Tenda. Digunakan pendaki yang hendak beristirahat dalam waktu yang cukup lama agar bisa melindungi para pendaki saat terjadi hujan atau angin kencang.

  • Sleeping Bag/kantung tidur. Alat ini berfungsi untuk menyelimuti pendaki saat tidur di gunung agar terhindar dari dinginnya cuaca pegunungan.

  • Alat penerangan, seperti senter, batere cadangan, atau lampu badai. Dengan adanya alat penerangan yang memadai, maka kegiatan mendaki di malam hari bisa berjalan dengan lancar.

  • Topi, sarung tangan, kaos kaki tebal, dan sepatu khusus (biasanya dari sol agar mudah menapak dan cengkramanya lebih kuat).

  • Pakaian hangat seperti jaket, kaus lengan panjang dan celana panjang kasual dengan bahan yang kuat dan nyaman pakai.

  • Alat-alat P3K, suplemen makanan, makanan instan/kalengan, dan minuman mineral. Ketersediaan makanan yang cukup akan mampu memberikan energi yang cukup pula saat mendaki.

  • Golok tebas, pisau lipat, dan teropong.

  • Alat dokumentasi (kamera atau handycam) agar kegiatan pendakian dapat terekam dan tentunya menambah keasyikan tersendiri.


[gallery orderby="rand"]


Kesiapan Mental


Mental dalam hal ini sangat berpengaruh, karena jika mental baik, maka fisik pun akan baik juga, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya. Untuk mengetahui keadaan mental seseorang dalam kondisi baik atau tidak memang tidak mudah. Tentunya yang lebih memahami keadaan mental ini adalah diri kita sendiri. Kesiapan mental secara pribadi akan sangat berpengaruh pada kondisi tim. Jika kesiapan mental tidak dalam kondisi fit alangkah baiknya jika tidak memaksakan diri.


Kesiapan Fisik


Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, contohnya : Stretching/perenggangan, jogging, sit-up, push-up dan pull-up. Latihan ini dimaksudkan agar kelenturan dan peregangan tubuh kita dapat terlatih dan terbiasa. Disarankan frekuensi latihan dan lama waktu semakin ditingkatkan setiap hari tetapi harus sesuai dengan batas toleransi ketahanan tubuh kita.


Kesiapan Administrasi


Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.


Kesiapan Ketrampilan dan Pengetahuan


Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC (emergency medical care) praktis.




"Mendaki gunung sangat paralel dengan aspek kehidupan lain dan itulah alasan mengapa kita bisa belajar banyak darinya. Selalu ada alasan mengapa orang suci selalu pergi ke gunung untuk menemukan makna hidup.


Dan pengalaman saya di gunung telah mengajarkan saya sebuah cara unik untuk menghadapi apa yang dilemparkan kehidupan kepada saya"


GARY P. SCOT


Pendaki Everest, dan pendaki tercepat Gg. McKinley Alaska


25 Agustus 2010

Menggapai puncak Sindhoro part 2

0 komentar

Lanjutan >>>

Kurang lebih pukul 1 dinihari, rombongan kami segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk memulai pendakian menuju puncak Sindhoro. Setelah merapikan semua tenda dan packing seluruh barang kami pun berdoa kepada Tuhan YME untuk meminta perlindungan dan keselamatan, pendakian pun segera dilanjutkan. Gw ditunjuk sebagai pemimpin rombongan melewati pekatnya malam dan dinginnya udara di langit Sindhoro. Here We Go...!!!



Memulai pendakian pada dini hari memang sangat susah selain karena jalur yang sangat sulit, jalan berbatu terjal disertai dengan kerikil dan debu cukup membuat rombongan kami merayap perlahan-lahan sambil meraba-raba mencari tempat pijakan yang aman. Kawasan ini agak rindang karena banyak ditumbuhi oleh pohon lamtoro dan tanaman perdu yang berembun. Tidak beberapa lama kemudian, salah satu anggota rombongan kami ada yang mengalami sakit pada perutnya, akhirnya kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan memasak logistik yang ada.


Setelah beberapa jam kami melewati kawasan hutan akhirnya jalur kembali terbuka dengan medan yang banyak terdapat batu-batu besar. Terlihat di belakang kami bayangan gunung sumbing, semeru, merapi, dan lawu seperti malu-malu bersembunyi di balik awan yang mulai pekat dan sinar mentari yang mulai naik seakan menambah pesona surgawi tersebut. Subhanallah. Rombongan kami berhenti sejenak untuk mengabadikan moment ini karena beberapa menit lagi kami akan mencapai puncak bayangan pertama sekalian istirahat yang cukup menghadapi rintangan berikutnya serta menunaikan sholat subuh. Waktu menunjukkan pukul 04.00 dinihari.




Setelah sampai di Puncak bayangan 1, pemandangan lebih bersih dan lebih mempesona daripada sebelumnya. Dan matahari pun menampakkan dirinya di ufuk timur, di balik rangkaian gunung-gunung yang menopang tanah Jawa. Dan di bagian lereng sebelah barat sindhoro terlihat sangat kecil pemukiman penduduk, mungkin temanggung atau wonosobo.










Sumbing Mountain










Sumbing tertutupi awan pekat










Dari puncak bayangan 1 jika memandang keatas, akan tampak puncak bayangan 2 yang kelihatannya sangat tinggi dan curam. Setelah ber-istirahat sejenak, rombongan kami langsung angkat kaki dari tempat itu karena awan yang sangat pekat akan segera menutupi matahari yang akan menyebabkan pandangan disekitar kita menjadi kurang jelas. Belum lagi dinginnya udara akibat terpaan angin yang sangat kencang.



Menuju puncak bayangan 2 yang terjal dengan medan yang berbatu yang besar sungguh sangat melelahkan, terutama bila dilakukan pendakian pada siang hari akan terasa sangat panas dan kita akan sering kehausan. Beruntung medan yang kita lewati ditumbuhi pohon lamtoro dengan jarak yang agak dekat sehingga bisa digunakan untuk berteduh. Selain itu, sinar matahari masih di selimuti awan tebal. Lintasan berikutnya melewati medan berbatu dengan tanaman edelweis. Sungguh perjuangan yang sangat berat, merangkak perlahan, mencari pijakan yang aman, dan dimana kita harus mengeluarkan seluruh kemampuan kita sampai batas akhir. Sesampainya di puncak bayangan 2 setelah melewati hutan edelweis, medan kembali terbuka dan harus melintasi batu-batu besar.  Kami beristirahat cukup lama disini sambil menikmati sisa-sisa logistik yang ada dan menimati view yang sangat luar biasa indahnya. "Inilah yang membuatku rindu akan pendakian".






Puncak gunung yang sesungguhnya masih belum nampak karena tertutupi oleh pohon-pohon edelweis yang tersebar diseluruh kawasan ini. Saat ini waktu menunjukkan pukul 08.00 waktu gunung. Berjalan sekitar 2-3 jam lagi kita akan sampai di Batu Tatah, daerahnya agak berbatu. Dan untuk menuju puncak diperlukan waktu 2 jam lagi, mendekati puncak kita mengambil jalan memutar dari arah kiri menuju ke arah kanan menuju puncak. Jalur akhir menuju puncak ini medannya lebih berat lagi, karena selain lebih terjal daripada sebelumnya dan terbuka, panas matahari sangat terasa menyengat, kelelahan yang amat sangat serta rasa optimis yang mulai menurun menghinggapi rombongan kami, menyebabkan beberapa kawan tidak mampu lagi melanjutkan pendakian ini. Batu-batu besar yang terdapat di sepanjang lintasan menjadi pijakan. Di siang hari pasir dan batu terasa sangat panas bila disentuh, terutama batu yang berwarna hitam bila dipegang akan terasa sangat panas sekali. Tidak mengherankan jika di gunung Sindoro ini sering terjadi kebakaran. Menjelang puncak, pohon edelweis banyak tumbuh sehingga bisa menjadi tempat berlindung dari teriknya matahari. Saya sempat mengabadikan beberapa moment di sepanjang jalur ini.





 






Dengan sisa kekuatan dan kemampuan yang kami miliki, akhirnya kami dapat berpijak pada ketinggian 3.153 mdpl puncak Sindhoro. Puncak Gunung Sundoro merupakan dataran seluas (400x300) meter, yang disebelah timurnya terdapat dua kawah kembar seluas (210x150) meter. Sedangkan di sebelah barat dan utara terdapat dataran Segoro Wedi dan Banjaran serta  dua dataran yang belum bernama, yang merupakan sisa kawah utama dan sekunder. Banyak terdapat batu-batu besar dan ditumbuhi tanaman edelweis. Dari puncak gunung Sindoro pemandangan ke arah selatan terlihat gunung Sumbing sangat indah sekali. Sedikit ke arah timur nampak Merbabu dan Merapi yang terlihat congkak yang diselimuti awan. Disebelah timur laut terlihat gunung Ungaran yang dipayungi dengan megahnya oleh awan putih. Di sebelah utara adalah Lembah Dieng yang merupakan salah satu jalur pendakian dari desa Sigedang-Tambi. Jalur Sigedang-Tambi merupakan jalur yang agak sulit karena jalanan sangat menanjak sehingga jarang yang melakukan pendakian lewat sini tetapi jalur ini banyak di gunakan sebagai jalur turun karena lebih cepat dan lebih dekat dengan Lembah Dieng.









Gunung Sumbing dan rangkaian Gunung Merbabu dan Merapi serta Lawu










Menatap Merbabu










Kawah Sindhoro










Gunung Ungaran










Dataran Segoro Wedi



 

 

Kawah gunung Sindoro cukup luas, pendaki dapat turun ke dasar kawah. Di musim penghujan kawah ini akan terisi oleh air membentuk danau kawah, sehingga pendaki dapat mandi serta mengambil air bersih dari danau kawah. Di musim kemarau kawah gunung Sindoro masih menyisakan genangan-genangan air yang bercampur dengan belerang sehingga terasa asam bila diminum.

 

Menurut tradisi masyarakat di sini setiap tanggal 1 Suro, Tahun Baru pada penanggalan Jawa-Islam, banyak penduduk yang mendaki Gunung Sundoro ini, untuk mengadakan selamatan di puncak.











Gw dan rekan-rekan yang mampu menggapai puncak Sindhoro beristirahat melepaskan lelah sambil tiduran di atas bebatuan dan kerikil sindhoro dan terus dihangatkan oleh matahari yang serasa membakar kulit. Diatas sini gw merasakan seolah-olah beban yang gw pikul serasa tidak lagi berarti, gw merasa bebas dan bersih. Seperti kata Soe Hok Gie : "Hanya di puncak gunung kamu merasa bersih". Sungguh perasaan yang hanya gw dan Tuhan yang tahu. Dari sini gw sadar bahwa, untuk mencapai puncak yang membuat gw bebas dan tanpa beban hanyalah dengan berjuang sekuat tenaga untuk mencapai batas kemampuan dan kesabaran kita sebagai seorang manusia menaklukan semua halangan dan rintangan yang sangat berat dan terjal dalam hidup. Satu poin yang sangat berarti buat gw!. Dalam khayalan, gw memikirkan semua hal yang telah gw perbuat selama ini dan membuat gw berfikir bahwa apa yang telah gw lakuin belum berarti banyak bagi orang-orang disekitar gw dan terutama bagi keluarga gw. Hal ini membuat gw menitikkan air mata.

 



 

 

Selamanya.... HIDUP MAHASISWA...!!!


dan selamanya... HIDUP PARA PENDAKI...!!!


dan dalam hati gw : 


"puncak mana yang harus  gw taklukkan lagi, karena ini yang membuat gw rindu dengan pendakian".