14 Mei 2011

Captain Jack - Bukan Mauku

0 komentar
Aku seorang yang tak ada

Tak sempurna layaknya manusia

Aku selalu dijauhi

Walau semua tak benci padaku

 

Bukan salahku di ciptakan begini

Bukan mauku hidup seperti ini

Aku tak butuh untuk dikasihani

Ku butuh pengakuan seperti yang lainnya

 

Ayah ibu sembunyikan aku

Dari dunia luar yang sangat ku impikan

Mereka malu akan wujudku dan apa adanya diriku

 

Dan akupun iri pada semua yang bermain diluar

Aku berharap hujan kan turun hapus semua senyum mereka

 

Bukan salahku di ciptakan begini

Bukan mauku hidup seperti ini

Aku tak butuh untuk dikasihani

Ku butuh pengakuan seperti yang lainnya

Captain Jack - Sejenak Sendiri

0 komentar
Sejenak biarkan aku sendiri

Di temani kesepian yang kupuja dan kadang ku benci

Tutupi aku dengan dinginnya sunyi yang menjaga telingaku

Dari suara-suara menggangu

 

Usah kau ramaikan kesepianku

Dan biarkan aku sendiri

Berikan sedikit kesepianmu agar kurasakan

Keberadaanmu

 

Sejenak biarkan aku waktu berhenti

Dan tak ada satupun yang berteriak di depan wajahku

Biarkan dunia hampa tanpa penghuni hingga aku tertidur

 

Usah kau ramaikan kesepianku

Dan biarkan aku sendiri

Berikan sedikit kesepianmu agar kurasakan

Keberadaanmu

 

Pergi…!

Pergi…!

Pergi…!

Soe Hok Gie - Hidup Adalah Pilihan

0 komentar

Hidup
Adalah
Pilihan


Berjuang?
Atau sekadar
Diam,
Tidur,
dan menunggu pagi..?!


Ironis
Ternyata kita egois….


[ Surabaya, Agustus pertengahan]

Rheyzaurus - Sepiku

0 komentar
Malam ini aku kembali terdiam sendiri di sini
Termakan kembali oleh sunyinya malam ini
Dan akupun kembali hanya sendiri dan sendiri
Tak ada kawan di sini kecuali sepi yang menemani
Malam ini sepi kembali melanda dan menyerangku
Mengusik dan mengganggu ketenangan hati dan bathin
Terus mengusik dan mengusik ketenangan
Mengingat kembali pada semua kenangan
Dan mendatangkan rasa kesepian

Soe Hok Gie - Sebuah Tanya

0 komentar

“Akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku”


(Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi.
Kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)


“Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”


(Lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. Kau dan aku berbicara. Tanpa kata… tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita)


“Apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”


(Haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. Seperti kabut pagi itu)


“Manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”