10 Mei 2011

Realita Kampus dan Mahasiswa

0 komentar
Banyak orang mengatakan bahwa zaman ini telah banyak berubah namun sebenarnya keadaan ini tak ada yang berubah. Kapitalisme masih berkuasa dan kian kejam. Amerika serta sekutunya sibuk invasi kesana – kemari. Yang berubah adalah kita sebagai kaum muda. Anak – anak muda yang terlampau takut melihat zaman. Kapitalisme telah masuk dan merongrong diberbagai urat nadi kehidupan sosial kita termasuk kampus.

Kampus telah menjadi museum tempat banyak orang tua yang memiliki intelektual tinggi berkumpul dan memaksakan pendapatnya. Buku - buku ditulis kemudian dipaksakan untuk dibeli dan dibaca. Dosen – dosen muda sibuk untuk sekolah dan kemudian mengajar dengan bait dan lirik yang sama. Seolah – olah mereka hanya sebuah pengeras suara dari isi buku yang itu – itu saja dan banyak diantara mereka tak punya pandangan segar dan mengejutkan. Karena itulah kuliah seperti mobil tua rusak yang lamban : terseok-seok tanpa ada kegemparan. Kuliah yang tawar membuat kampus menjadi tempat seperti tempat penitipan anak. Tradisi kuliah yang seolah – olah lebih mengutamakan terisinya lembaran absensi daripada otak membuat mahasiswa “harus dipaksakan!!!”mengikuti kuliah. Dosen seolah – olah mengejar setoran. Berikan sebanyak – banyaknya, secepat – cepatnya. Lebih cepat selesai lebih bagus. Tak peduli hasilnya bagus atau buruk. Tak penting apakah para mahasiswa menguasai materi atau tidak. Dari cara ini memang banyak melahirkan mahasiswa yang memiliki nilai KHS tinggi dan mampu menjawab semua pertanyaan tentang kimia, fisika, ataupun hal – hal lainnya. Namun, tidak sedikit dari mahasiswa yang berintelektual tinggi tersebut tidak tidak pernah berpikir tentang : apa yang bisa saya lakukan untuk mengurangi penderitaan rakyat yang menjadi korban penindasan penguasa biadab?.

Di kampus – kampus selalu lantang ketika berbicara tentang penindasan kaum lemah dan sistem kapitalis barat. Namun tak ada gerakan sama sekali, yang ada hanya kumpulan orang penakut dan bernyali banci yang berambisi besar. Perpustakaan selalu sepi dengan buku – buku pergerakan. Itu yang membuat kampus menjadi menara gading tempat menyimpan orang – orang kerdil yang tidak terlalu antusias berfikir tentang hal – hal mengenai rakyat. Sedangkan diluar sana masyarakat memandang kampus sebagai lingkungan para terpelajar elit yang sulit disentuh yang akan menolong mereka. Tapi dengan biaya mahal siapa yang bisa kuliah?. Ujung dari pendidikan busuk ibarat sampah ini hanya menghadirkan mahasiswa penindas yang tak peduli akan rakyat. Maka benarlah tulisan So Hok Gie :


hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas hingga akhir zaman oleh dosen – dosen korupmereka…"

Julukan dosen korup ditorehkan pada mereka yang perangainya selalu menindas dan selalu berbohong. Inilah yang membuat kampus kehilangan rahim gerakan karena para dosen hanya meniupkan kesadaran palsu kepada mahasiswanya. Gerakan – gerakan mahasiswa yang muncul seperti gerakan anak SMU yang bergerak dibawah telunjuk, hanya olah ketrampilan untuk kemudian menjadi kader yang lihai berbohong dengan mandatnya tanpa bisa memikirkan apa yang bisa mereka kerjakan untuk perubahan sosial rakyat. Mahasiswa menjadi segolongan mayat hidup yang bercita – cita menjadi sarjana untuk mendapatkan kenikmatan hidup. Mereka membawa buku keluar masuk ruangan mencoba untuk menjadi anak – anak patuh. Mereka tidak sadar bahwa tugas mereka tak hanya itu! Tahukah mereka kalau diluar sana ada banyak kepedihan dan kesakitan yang berjalan. Semangat perlawanan bukan saja hilang! Tapi tersungkur kesadarannya untuk membaca alur kehidupan yang semakin tidak adil ini. Mahasiswa seharusnya menjadi penyambung suara pedih rakyat namun realitanya sekarang menjadi penyalur kaum borjuis yang munafik dan korup.

Antonio Gramsci mengatakan :



“…anak – anak muda menjadi pengecut sekaligus melihat terlalu banyak kepengecutan, anak – anak muda ini begitu memalukan dan menyedihkan,… dan tak mungkin bagi sebuah Negara berharap tercipta pembaharuan masyarakat dari berandal – berandal muda ini…”


Kampus kini menjadi sarang para perompak yang melihat masalah sosial hanya sebuah kesimpang-siuran teori. Pendapat ilmiah hanya merupakan jamuan argumentasi yang tak mampu diterjemaahkan dalam realitas. Kampus hanya menjadi kumpulan seonggok daging sarjana tersohor yang hanya berpuas diri dengan saling berargumentasi. Kampus menjadi karnaval teori – teori klasik tanpa bersentuhan dengan realitas kemasyarakatan.

Kita bisa melihat contoh pada Che Guevara, seorang mahasiswa kedokteran yang hampir lulus dengan status cum laude yang lebih memilih mengelilingi amerika latin untuk melihat penderitaan rakyat daripada percaya pada buku dan menulis laporan – laporan penelitiannya. Ia tinggalkan semua kebiasaan kuliah, berburu nilai terbaik dan mematuhi dosen. tapi tak dapat dipungkiri kita tak dapat bisa menjadi seperti dia karena kita berada dimasa yang berbeda dan kondisi sosial yang berbeda pula. Namun, tidaklah kurang jasanya melakukan perjuangan melalui media – media tersedia.

Dalam bukunya Hatta menulis :



pangkal segala pendidikan karakter ialah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang dianggap salah… dalam memelihara dan memajukan ilmu, karakterlah yang terutama, bukan kecerdasan!. Kurang kecerdasan dapat diisi, kurang karakter sangat sukar memenuhinya…”


Semoga generasi kita tidaklah seperti generasi sampah yang bisa diinjak – injak oleh penguasa yang kotor dan korup.

Disadur dari "Jadilah Intelektual Progressif" karangan EKO PRASETYO, Resist Book. Dengan perubahan seperlunya

21 Maret 2011

Rheyzaurus - Jejak Langkah

0 komentar
Setapak,
Kakiku tergerak maju ke depan..
Satu,
Dua,
Tapi terjatuh,,Bangkitlah ia,,
Dengan gemetar, kuangkat lagi si kaki,
Satu,
Dua,
Dan dia terjatuh lagi..

Begitu terus kuulangi..
Lagi dan lagi..
Hanya jejak yang terekam permukaan di tanah..

*untuk kawan yang bersama mencari mimpi di kota ini



Taufik Ismail - Bila Kutitipkan

0 komentar
Bila kutitipkan..
Bila kutitipkan dukaku pada langit pastilah langit memanggil mendung
Bila kutitipkan resahku pada angin pastilah angin menyeru badai
Bila kutitipkan geramku pada laut pastilah laut menggiring gelombang
Bila kutitipkan dendamku pada gunung pastilah gunung meluapkan apiTapi…
Akan kusimpan sendiri mendung dukaku dalam langit dadaku
Kusimpan sendiri badai resahku dalam angin desahku
Kusimpan sendiri gelombang geramku dalam laut fahamku
Kusimpan sendiri api dendamku dalam gunung resapku
Kusimpan sendiri…

01 Maret 2011

Taufik Ismail - Kau Ini Bagaimana?

0 komentar
Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana?

Kau ini bagaimana??

Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya

Kau suruh aku berfikir, aku berfikir kau tuduh aku kafir

Ku harus bagaimana??

Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai

Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana?

Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku

Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku

Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana?

Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaan-mu membuatku sakit jiwa

Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya

Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana?

Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat

Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya

Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Hah.. Kau ini bagaimana?

Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah

Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana?

Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi

Aku kau suruh bertanggung-jawab, kau sendiri terus berucap wallaahu’aalam bis saawab

Kau ini bagaimana?

Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku

Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu

Kau bilang selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana?

Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis

Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana?

Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah

Kau bilang cari alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana?

Aku bilang terserah kau, kau tidak mau

Aku bilang terserah kita, kau tak suka

Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana atau aku yang harus bagaimana?

Rheyzaurus - Arti Sebuah Rumah

0 komentar
Apakah arti sebuah rumah? Bagi saya, rumah menunjukkan tempat kita di dunia. Setidaknya itulah pandangan saya secara pribadi. Rumah membuat saya merasa punya tempat untuk pulang. Kemana pun saya pergi mengembara, saya selalu tahu, ada sebuah tempat dimana saya bisa kembali.

Saya bisa berjalan tanpa henti, tanpa tujuan. Terdampar di tempat asing yang sama sekali tidak dikenal, bertemu orang-orang yang tidak saya kenal. Saya bisa saja terlantar dimana pun. Tapi satu hal yang membuat hati tetap tenang, yaitu saya punya sebuah rumah sederhana, yang menanti kepulangan saya.

Tetapi hidup memang harus selalu berjalan. Saat ini saya jauh dari rumah untuk pulang. Senyaman apa pun saya di sebuah tempat, tetap saja ada rasa terasing, ada rasa bahwa ini bukan tempat saya.

Karena itu saya bertekad untuk bekerja keras. Tekad membaja dan membulat untuk kembali ke rumah sendiri. Rumah dimana diri ini selalu diterima. Tempat dimana selalu ada kasur empuk yang siap menampung tubuh yang letih.

-rheyzaurus_